Mencerahkan Ilmu Yang Terang

Dialog Profesor dengan Mahasiswa.

Seorang Profesor sedang mengajar di depan kelas mahasiswa Program Master di kampusnya, Profesor ini atheis dan sedang berbicara di kelas Fisika. Kata Profesor :” Apakah Allah  menciptakan segala yang ada “? Maka para mahasiswa serentak menjawab :” Betuuul, Dia menciptakan semua segalanya”.,

Sang Profesorpun menyambut jawaban mahasiswanya :” Jika Allah menciptakan segalanya, maka juga Allah menciptakan Kejahatan:. (Semua mahasiswa terdiam dan agak kesulitan menjawab hipotesis  Profesor itu)…….

Tiba-tiba seorang mahasiswa memecahkan kesunyian, mahasiswa itu lalu menjawabnya :” Wahai Profesor, saya ingin bertanya, ” Apakah dingin itu ada “? kemudian Profesor itu menjawab :” Tentu dingin itu ada”. maka Mahasiswa itu juga menjawabnya :” Sesungguhnya dingin itu tidak ada Prof,  menurut hukum Fisika, yang kita anggap dingin itu sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu – 460 derajat. (Farenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mengungkapkan ketiadaan panas., Selanjutnya mahasiswa itu melanjutkan pertanyaan :” Apakah gelap itu ada.”?

Profesor menjawab :” Tentu gelap itu ada :”

Mahasiswa itu pun menjawab :”. Anda salah lagi Prof”.  Gelap juga sesungguhnya tidak ada, karena gelap adalah karena ketiadaan cahaya, Cahaya bisa kita pelajari, sedangkan Gelap tidak bisa kita pelajari, Panas  bisa kita pelajari dengan  menggunakan Prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap (Seberapa gelap dalam suatu ruangan diukur melalui berapa besar intensitas Cahaya di ruangan itu.

Asal muasalnya Allah menciptakan segalanya dalam bentuk spektrum sifat “Falaqo” secara kontras dalam bentuk  “Binner” : Baik – buruk,… Benar – Salah,  Beriman – Kufur. Dari Kondisi nyatanya spektrum nilai tersebut berwujud  sebagai penyimpangan, dalam keterkaitan dengan pihak lain dinyatakan  sebagai kejahatan ( Referensi : Surat Al Falaq; Uraian buku “Muslim Kafah 2)