Budaya Dasar III

Diskusi Sistem Budaya

Kuliah Budaya Dasar 4 Desember 2019                                                              

 

Syistem budaya

Syistem budaya merupakan wujud yang abstrak dari kebudayaan itu sendiri, System budaya atau cultural system. Merupakan ide-ide atau gagasan manusia hidup bersama dalam suatu masyarakat. (Kuncara ningrat)

Menurut Backer (1984,37) : Kebudayaan sebagai penciptaandan perkembangan nilai meliputi segalaapa yang ada dalam alam fisik. Yang meliputi system Budaya Subyektif, dan system budaya Obyektif

System sosial :

Teori sosial dalam perkembangan kebudayaan, system sosial pertama kali diperkenalkan oleh Talcot Parson, Konsep system sosial merupakan yang konsep yang rasional sebagai pengganti konsep-konsep eksistensial dalam perilaku sosial. Konsep system sosial Talcot Parson meliputi  Hubungan berdua, kelompok kecil, keluarga, masyarakat dan organisasi.

Dalam satu system sosial terdapat 4 hal yaitu yang penting :

  • Dua orang atau lebih.
  • Terjadi interaksi di Antara mereka
  • Memiliki struktur, symbol dan harapan-harapan bersama yang dipedomaninya.
  • Dalam sebuah system sosial tersebut dapat berfungsi apabila dipenuhi empat persyaratan fungsional yaitu :
    • Adaptasi, menunjuak pada keharusan bagi system sosial untuk menghadapi lingkungan.
    • Mencapai tujuan, merupakan persyaratan fungsional bahwa tindakan itu diarahkan pada tujuan-tujuan (bersama system sosial)
    • Integrasi, merupakan persyaratan yang berhubungan dengan inter relasi Antara para anggota dalam system social                   1)
    • Pemeliharaan pola-pola tersembunyi, konsep latensi pada berhentinya interaksi akibatkeletihan dan kejenuhan, sehingga kemudian tunduk pada system sosial lainnya.

    Konsep Nilai, System nilai, Dan Orientasi Nilai Budaya.

    Apakah arti sebuah nilai ?

    Nilai mengandung arti yang terbagi dalam 2 garis besar, yaitu Nilai dalam arti yang Obyektif, dan  nilai yang berarti subyektif, yang dapat diuraikan sbb :.

     1.Nilai dalam arti Obyektif :

    Yaitu sifat-sifat yang khas, watak khusus dalam arti yang sangat khusus, baik benda-benda atau apa saja yang membuat hal tersebut dinilai kurang layak untuk dihargai, tidak layak dimuliakan.

    2.Nilai Subyektif :

    Nilai dalam arti subyektif adalah, sebuah nilai yang tidak mendapatkan penghargaan dari seseorang penilai yang sedang menilai benda atau apa saja dari proses yang menilai tersebut.

    Nilai ini terjadi dalam proses sebah penilaian.

    Banyak Filsuf yang memberikan nilai obyektir berdasarkan fakta-fakta, sedangkan penilaian yang obyektif banyak terlobyekahir dari penilai itu sendiri yang berdasarkan pada; perasaan, keindahan, kebaikan

  • yang membuat hal tersebut dinilai kurang layak untuk dihargai, tidak layak dimuliakan.2.Nilai Subyektif :

    Nilai dalam arti subyektif adalah, sebuah nilai yang tidak mendapatkan penghargaan dari seseorang penilai yang sedang menilai benda atau apa saja dari proses yang menilai tersebut.

    Nilai ini terjadi dalam proses sebah penilaian.

    Banyak Filsuf yang memberikan nilai obyektir berdasarkan fakta-fakta, sedangkan penilaian yang obyektif banyak terlobyekahir dari penilai itu sendiri yang berdasarkan pada; perasaan, keindahan, kebaikan, dll)

     

    Terdapat 4 unsur pembentukan nilai  yang menguasai subyek (: , Lih, Mis. Y. Gorby, Belle, Valeur, Vander, Nauwelerrts, Louvain, hal. 59-dst) bahwa fenomena nilai terdiri dari 4 unsur :

    1. Manfaat (Utility)
    2. Keperluan/Kepentingan (importance)
    3. Penilaian/Kebutuhan (estimation)
    4. Kebutuhan ( need) 2)

     

    Selanjutnya (Sutrisno : 1993 : 87) membagi dengan pengertian nilai sebagai berikut, tentang pembagian nilai :

    1. Nilai Instrinsik (ontologis), yaitu harga yang paling dianggap vital, penting demi adanya benda-benda tersebut ; Contoh ; Dinamo untuk mobil…contoh lain…?
    2. Nilai Ekstrinsik ; Ialah kualitas bagi suatu hal yang dipandang berguna, perlu menarik demi kelangsungan adanya yang lain; misalnya obat merupakan nilai ekstrinsik bagi orang yang sakit.

     

    Nilai-nilai ekstrinsik dapat dibagi lagi dengan ; 

    1. Nnilai dalam tindakan, dengan nilai dalam potensi;
    2. Nilai natural (alam) dengan nilai budaya, dan
    3. Nilai ekonomi denga nilai spiritual

     

    Hal-hal yang berguna bagi manusia untuk membantu kita untuk menuju dan mengikuti kebahagiaan. J. De Finance (Filsuf Prancis) Membagi nilai itu dengan   aspek spiritual manusia,  Menurut  J.De Finance bahwa “ Semakin tinggi dan baik salah satu nilai, semakin barkaitlah ia dengan aspek spiritual manusia yang lebih tinggi”

    1. De Finance, juga mengklasiifikasikan nilai – nilai sebagai berikut :
    2. Nilai Pra manusiawi (Pra Hukum) : Yang berlaku untuk manusia tetapi tidak membuatnya manusiawi ( Nilai-nilai hedonis dan biologis.)
      1. Nilai pra Moral (Human Value Pra moral) : Berkaitan dengan sosial kultural, yaitu nilai-nilai ekonomis, intelektual, dan nilai-nilai etis.
      2. Nilai-nilai Moral ( Moral Values) : Merupakan nilai-nilai tindakan, pelaksanaan kebebasan dalam realisasinya terhadap  kewajinan (duty) ndan kebaikan.
      3. Nilai-nilai spiritual dan religiusitas, nilai-nilai dalam lingkup “ Kesucian” dan “ Ketuhanan”

      3)

      Eric Fromm  membagi nilai dengan dalam dua ringkasan yaitu :

      1. Nilai ekonomis : Yang menyangkut dunia/lingkup Having(kepemilikan) keberadaan di dunia denga n kecenderungan mau memiliki semua
      2. Nilai entitatif ; yang menyangkut dunia “ being” , Nilai ini didasari demi eksistensi  sama dengan being sebagai ruang keberadaan di dunia dengan nilai-nilai yang mengembangkan pribadi (Erric Fromm, Having or being , 1977)

       

      Klasifikasi lain :

      1. Nilai Mutlak; Berlaku untuk semua orang, umum dan diikuti oleh semua
        1. Nilai Relatif; Yang tidak berlaku untuk semua. Namun hanya berlaku untuk beberapa kebudayaan tertentu.

         

        Sebagai bahan perbandingan, pengertian tentang nilai ada beberapa pendapat yaitu :

         

        1. Papper (1958:7) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk.
        2. Perry (1954) Mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subyek)
        3. Kohler (1938) : Mengatakan bahwa manusia tidak berbeda didunia ini, semua tidak dapat berhenti dengan hanya sebuah pandangan (maksud) Faktual dari pengalaman yang berlaku.
        4. Kluckhohn (1951) : Bahwa definisi nilai yangditerima sebagai konsepyang diinginkan dalam literature ilmun sosial adalah  hasil pengaruh seleksi perilaku.  Batasan sempit adalah yang didapat dari perbedaan Antara apa apa yang dibutuhkan, dan yang diinginkan  yang disusun secara hierarchies, kepuasan hati,  tujuan kepribadian, system sosial budaya, kelompok masyarakat, kehidupan sosial yang lebih besar.

         

        4)