Negeri Terasing

Merupakan Cerita Pendek pertama yang kuhadirkan di uhsbandung.com.

Cerita Pendek (1).

Tubuh Terbujur Kaku di Pantai Negeri Asing.

Medio !0 April 2020

By : Jaji S Satira

Hari ini kugoreskan bayangan yang selintas kilat terbang dihadapan sudut pandangku. Sekilas yang mengandung arti misteri di hidupku. Entah mengapa itu bisa terjadi.  Ya sangat misteri yang tak pernah terpecahkan. Aku terhempas dengan rasa sakit tiada tara, Wajahku yang tersungkur dan lengan tanganku menyangga beban sakit di sekujur tubuh,  keringatku seperti disengaja membajiri seluruh anggota tubuh dan mencoba mendinginkan rasa panas tak keruan. Entah ini dimana, Tumbuh-tumbuhan dengan akar yang sangat besar, terbayang dihadapan berwarna hitam, kekar batang pohon itu, tetapi membedakan warna kelam kegelapan di sekitar yang gelap seperti kelam bila kita bandingkan dengan hitamnya batang pohon yang besar itu. Besar sangat luar biasa.

Aku tak dapat membandingkan seberapa besarnya batang pohon itu dengan besarnya tumbuh-tumbuhan pohon yang ada dan pernah kulihat sebelumnya. Kulit pohon itu bergerigi seperti permukaan roda kendaraan besar, ya  sebesar kendaraan berat pengangkut barang-barang raksasa beratnya.

Tak cukup keanehan itu hanya melihat sebatang pepohonan yang sangat luarbiasa besarnya, namun pohon-pohon lainnya seakan menjadi pohon anak buahnya. Mereka tunduk dan patuh kepada sang pohon raksasa yang ku rasakan.

Suasana hitam kelam nenyelimuti perasaanku, diketerasingan alam yang entah dimana selama hidupku melihat tempat yang hitam kelam ini. Semestinya dedaunan dihadapanku berwarna hijau, pucuk-pucuk rantingpun semestinya demikian juga, tetapi tidak juga ada dalam bayangan seperti itu.

Angin dingin meniup deras dan menerpa seluruh tubuh yang sejak tadi tersungkur di hadapan pohon besar nan aneh itu. Dan…….yaaaa. bebatuan jalanan yang masih belum ku yakini, juga berwarna hitam……… tapi persepsi dan keyakinanku belum bisa dipastikan akurat untuk mendefinisikan alam sekitarnya sebagai tempat yang asing….. entah keasingan seperti apa, aku hawatir dengan keasingan ini berbeda dengan persepsi orang-orang lain dalam mengartikan gambaran hitam kelam itu.

Apakah aku menjadi bisu, aku tak mampu menjawab pertanyaan yang patah-patah terdengar, aku hanya mampu berteriak di dalam hati………Allah hu Akbar..!!!!!, Tunjukan saja seperti seperti apa supaya aku dapat menjawab pertanyaan yang kudengar terpatah-patah itu. Entah itu suara dari mana, kadang-kadang suara itu datang dengan sayup-sayup. Tapi aku juga belum dapat memberikan jawaban yang sayup-sayup datang pertanyaan itu sepertinya dibawa angin……….. kadang-kadang kurasakan dinginnya angin di sekitar itu,……. Tapi kini  terkadang datang dengan suhu yang panas menerpa tubuhku.

Semakin saja aku merasakan keasingan daerah ini, sedikit-demi sedikit mulai tampak pucuk-pucuk ilalang, bunganya yang bergoyang diterpa angin panas, dipucuk-pucuk bunga ilalang yang seperti bulu-bulu biasanya indah beterbangan, disini masih terlihat asing……. Di bawah kehitam kelaman dari pandangan mata yang sepertinya tidak juga bisa diubah, ….. warna gelap itu tetap kelam….. semua hitam, tapi kini aku dapat membedakan warna hitamnya sebuah pohon besar,……ya …pohon-pohon lainnya hitam tetapi aku dapat membedakan di Antara pohon yang satu dengan lainnya, besarnya pohon yang satu dengan besar pohon lainnya, dan aku dapat membedakan jauhnya letak pohon yang satu dengan pohon lainnya.

Ya…… Pelukis yang mana bila kubandingkan….? dan sangat luar biasa, semua obyek benda tampak berwarna hitam….. ya… aku bertanya se kali lagi, pelukis mana yang mampu menggambar sebuah pemandangan dengan semua berwarna,  baik cat air maupun cat minyak,  semua berwarna hitam  dan…….. ya,….. semua berwarna hitam.

Hampir beberapa jam lamanya dalam tubuhku  yang tersungkur, aku sungguh masih belum dapat berkgerak, tubuhku kaku, dan darahku juga membeku, kadang tubuhku menggigil ketika angin dingin menyerbu,  kadang tubuhku bergetar ketika angin  meniup udara panas menerpa tubuhku yang kaku. …….. masih tersungkur. Dan aku masih belum dapat menggambarkan ketika sepatah kata yang  terbata-bata. ….. aku sungguh tak mengerti apa yang dikatakan, seakan  kalimat yang terbata-bata itu bukan untuk telingaku.

Dunia ini seperti sangat jauh  berbeda, berbeda ketika aku menjadi orang sadar dimana aku bermain, di mana aku beristirahat, dan di mana aku menikmati alam yang diciptakan, spertinya alam ini hanya untuk diriku, dan orang lain tidak mengerti apa yang aku ceritakan. Bukan juga seorang pelukis alam yang dapat menggambarkan keindahannya dunia, Aku masih tersungkur dihadapan pohon besar, bertubuh kekar, kulit batang tubuhnya juga bergerigi seperti roda – roda raksasa.

Tubuhku masih tersungkur, terkadang tubuhku menggigil, tetapi terkadang tubuhku yang diterpa angin panas seperti meleleh, entah mengapa udara panas dan udara dingin menerpa bergantian.

Entah seperti apa wujudnya, mereka berdatangan silih berganti, seraya memanggil jasadku… Waaaahhhaaaaaab…….!!!!!, suaranya bergemuruh bersamaan suara aneh di telinga ku, dan membuat entah kenapa tubuhku bergetar keras, mungkin getar tubuhku oleng bersama getar bebatuan yang menyangga tubuhku terbujur, karena tubuhku  masih tersungkur.

Tanah dan bebatuan yang tertimpa tubuhku mulai menggeliat, karena sejak tadi tubuhku masih tersungkur, terbujur kaku dan tidak dapat bergerak. Setelah kudengar suara aneh telah memanggilku,…… sayup sayup menghilang di kejauhan.

Berganiti saat itu suara aneh menjadi hening,…. Aku tak juga mendengar apapun di sekitar tubuhku, kecuali warna hitam di sekelilingku, yang masih hitam kelam menyelimuti suasana disekitar,  sepertinya angin malam berhembus membuatku menggigil, darahku membeku, ini seperti angin malam di kampungku. Kampung kecil yang dikelilingi persawahan, terkadang menebarkan angin malam yang terasa dingin di tubuhku. Di sini berbeda, walaupun serasa angin malam menerpa tubuhku, angin di sini  asing menerobos di pandangan mata yang semua berwarna hitam, tak ada sengatan serangga yang menggigit kulitku menjadi gatal, kecuali tubuhku masih terbujur kaku.

Kini aku mendengar suara aneh yang membelah keasingan di tubuhku, semula kedua telingaku yang mendengar deburan ombak raksasa, bak ombak bergulung berdebur membelah bumi, dan tubuhku akan semakin hanyut tergulung ombak. Tapi aku berada di sana. Tubuhku semakin beku, tangan dan kaki ku semakin terbujur kaku, Bola mataku terasa terbelalak, namun tak suatupun kulihat kecuali warna hitam di sekeliling.

Sekali lagi kudengan suara memanggilku:”….Wwwaaaahaaaaab…..!!!!!!!:. dan suara itu benar-benar menggema dari dasar bumi yang paling mendasar. Menggema suara itu mengisi seluruh ruang hampa dipermukaan bumi, kalu tidak setidaknya merupakan suara yang ada di kolong langit tempat aku bersembunyi dan kini aku jatuh tersungkur.

Kini aku mulai dapat mengidentifikasi berbagai gejala dan fenomena terhadap diriku sendiiri, setidaknya aku teringat pekerjaan apa yang pernah aku lakukan, sejak usia anak, perbuatan-perbuatan dan tingkah laku aku entah baik atau  buruknya….., setidaknya aku mulai mengidentifikasi siapa diriku ini, seorang anak dari sepuluh bersaudara, sahabatku teman sepermainan, sahabatku dalam menentukan hidup. Sahabtku yang selalu bersama merangkuh dayung, kadang aku di buritan dan kadang  terus bergantian, jika dia yang mngendalikan perahu kecil nelayan itu, aku yang mengayuh untuk sekuat tenagaku, aku dan sahabatku Wahab,  menggantungkan hidup mengais rejeki di perairan selat sunda.

Aku segera dapat bangun dari tubuhku yang tersungkur di hadapan pohon besar berdiri tegap.  Walaupun masih semuanya berwarna hitam, aku melihat perahu sampan tidak jauh dari tempatku terbujur kaku.  Aku juga mendengar lagi sebuah panggilan dengan suara menggema memecahkan langit hitam di atas tubuhku. :”…… Jaaammmaaaal…”!!!  aku semakin yakin, namaku juga yang dipanggil dengan suara yang sangat menggema itu……..:” aku dan dia sahabatku yang paling setia menemaniku dalam mengais rijeki di laut tepian Pulau belibis,  Sebuah Pulau yang terdampar di Seberang Gunung Krakatau.

Yaaah,,….. Selat Sunda, yang terbentang Antara Pulau Jawa dan Sumatera, sumber kehidupanku. Di sana Wahab bersamaku mengayuh gayung untuk menerbangkan sampan untuk mengais rejeki, dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lainnya, dari tepian pulau jawa bagian barat, yang tepatnya wilayah pesisir kota Merak-Banten,  dan tepian pulau Sumateram di sana tempat tinggalku dengan Wahab, sekitar pantai tepian Sumatera selatan, yaitu daerah kalianda, tepian Bakauheuni.

Aku mulai sadar, dan aku mulai merasakan hembusan angin yang aneh telah berubah, Tak ada lagi angin dingin, dan tak ada lagi angin panas  yang menerpa tubuhku, tetapi pandangan mataku berkunang-kunang. Ada warna-warni  yang menerangi pandanganku. Aku merasa sangat senang dan bahagia, Pohon besar  tempat ku terbujur kaku kini sudah berubah warna kecoklatan, dia memiliki dahan, dan ranting serta dedaunan yang hijau agak sedikit terkoyak sebuah peristiwa.

Ahh….. kini aku mulai sadar, bahwa sampan dihadapanku adalah perahu sampan  yang aku gunakan bersama wahab mengais rejeki di perairan pantai di selat sunda. Di kaki gunung Krakatau aku sering kali singgah sekedar melepas lelah, membuka perbekalan sekedar nasi bungkus daun pisang, lauk-pauk sekedarnya, garam cabai dan bawang digerus sekedar penyedap rasa.

Ahhhh,….. perbekalan itu belum sempat juga ku nikmati, Ombak besar bergulung-gulung menerjang bebatuan dan pulau-pulau kecil ditenggelamkan……..padahal pulau-pulau kecil itu tempatku berlindung bersama wahab. Astagfirullah….. Allaaaahu Akbbbaaaaar.

Penduduk masih berteriak menyebut nama Allah yang Maha Kuasa.  Kini rupanya  Tuhan berkehendak.  Wahab dipanggil oleh yang maha kuasa. Dan aku sendiri baru bisa terdiam.

Pulau Belibis diterjang badai yang amat besar. Gunung Krakatau berguncang kembali.